• Latest News

    Monday, 13 February 2017

    Patologis Reaksi Transfusi Darah

    Reaksi Transfusi Darah
    Transfusi darah yang tidak sesuai dengan ABO atau Rh dapat menyebabkan reaksi transfusi hemolitik dengan menghancurkan SDM yang ditransfusikan dan akhirnya berisiko menyebabkan kegagalan atau kerusakan ginjal, febris, alergi, kelebihan beban sirkulasi, dan sepsis. Karena risiko reaksi merugikan sangat tinggi jika darah ditransfusikan, maka klien harus sering dikaji dan hati-hati sebelum dan selama transfusi. Biasanya reaksi muncul dalam 30 menit setelah transfusi, dan klien harus dipantau secara ketat selama periode tersebut. Hentikan transfusi segera jika terjadi tanda-tanda reaksi.

    Tabel Reaksi Transfusi
    Reaksi : Penyebab
    Tanda Klinis
    Intervensi Keperawatan
    Reaksi hemolitik : ketidaksesuaian antara darah klien dan darah donor
    Mengigil, demam, sakit kepala, sakit punggung, dispneu, sianosis, nyeri dada, takikardia, hipotensi.
    1.  Hentikan transfusi dengan segera. Perhatikan apabila transfusi dihentikan selang darah juga harus dicabut. Gunakan selang baru untuk pemberian infus salin normal.
    2.  Pertahankan vena tetap terbuka dengan salin normal atau sesuai instruksi.
    3.  Kirim sisa darah, sampel darah klien, dan sampel urine ke laboratorium.
    4.  Beritahu dokter segera.
    5.  Pantau TTV.
    6.  Pantau asupan dan haluaran cairan.
    Reaksi fibris :
    Sensitivitas darah klien terhadap sel darah putih, trombosit, atau protein plasma
    Demam, mengigil, kulit hangat, memerah, sakit kepala, cemas, nyeri otot.
    1.  Segera hentikan transfusi
    2.  Berikan antipiretik sesuai program
    3.  Beritahu dokter segera
    4.  Pertahankan vena tetap terbuka dengan infus salin normal
    Reaksi alergi ringan : Sensitivias terhadap protein plasma yang diinfuskan


    Kemerahan, rasa gatal, urtikaria, mengi brokhial.




    1.  Hentikan/perlambat transfusi sesuai instruksi
    2.  Beritahu dokter segera
    3.  Berikan obat anti histamin sesuai program


    Reaksi alergi berat :
    Reaksi antibodi-antigen
    Tanda Klinis
    Dispneu, nyeri dada, kolaps sirkulasi, henti jantung.
    Intervensi Keperawatan
    1.  Hentikan transfusi
    2.  Pertahankan vena tetap terbuka dengan infus salin normal
    3.  Segera beritahu dokter
    4.  Pantau TTV, lakukan RJP bila perlu
    5.  Berikan obat/oksigen sesuai indikasi

    Kelebihan beban sirkulasi :
    Darah diberikan dengan waktu lebih cepat dari yang dapat diakomodasi sirkulasi
    Tanda Klinis
    Batuk, dispneu, ronkhi basah, distensi vena jugularis, takikardia, hipertensi.
    Intervensi Keperawatan
    1.  Tempatkan klien dalam posisi tegak dengan kaki terjuntai
    2.  Berikan diuretik dan oksigen sesuai kebutuhan
    3.  Beritahu dokter
    4.  Hentikan atau perlambat transfusi

    Sepsis :
    Darah yang diberikan tercemar
    Tanda Klinis
    Demam tingggi, mengigil dan muntah, diare dan hipotensi.
    Intervensi Keperawatan
    1.  Hentikan transfusi
    2.  Kirim sisa darah ke laboratorium
    3.  Beritahu dokter
    4.  Dapatkan spesimen darah dari klien untuk biakan
    5.  Berikan cairan IV dan antibiotik
    6.  Pertahankan vena tetap terbuka dengan infus salin normal

    Reaksi Transfusi Darah


    Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Transfusi Darah
    ·    Tindakan kewaspadaan khusus dibutuhkan saat memberikan darah
    ·    Saat transfusi diprogramkan , ambil darah dari bank darah tepat sebelum memulai transfusi
    ·    Jangan menyimpan darah di kulkas pada unit keperawatan (kurangnya kontrol suhu dapat merusak darah)
    ·    Darah diberikan dengan jarum atau IV kateter berukuran besar (18 atau 19), menggunakan jarum kecil dapat memperlambat infus dan kerusakan sel darah, kecuali untuk anak kecil atau klien yang memiliki vena yang rapuh dan kecil.
    ·    Set transfusi darah tipe-Y dengan filter sejalur atau tambahan filter digunakan saat memberikan darah, dimana satu cabang set infus terhubung dengan darah dan satunya terhubung dengan salin normal 0,9%. Cairan salin normal digunakan untuk mempersiapkan set dan membilas jarum setelah pemberian darah serta mempertahankan vena tetap terbuka untuk berjaga-jaga apabila terjadi reaksi transfusi.
    ·    Larutan IV lain tidak boleh diberikan bersama darah (selain salin normal) karena dapat menyebabkan pembekuan darah.
    ·    Transfusi darah harus diselesaikan dalam waktu 4 jam. Risiko sepsis meningkat jika darah tergantung dalam periode yang lebih lama.
    ·    Selang darah diganti baru setelah digunakan 4-6 unit darah diberikan sesuai kebijakan lembaga.

    Pengkajian
    ·    Tanda-tanda reaksi klinis, misalnya : menggigil secara mendadak, demam, mual, gatal, ruam, nyeri punggung bawah, dispneu
    ·    Manifestasi hipervolemia
    ·    Status tempat infus
    ·    Setiap gejala yang tidak lain

    Perencanaan
    ·    Pastikan program dokter untuk transfusi
    ·    Pastikan persetujuan klien dan dapatkan data dasar sebelum memulai transfusi
    ·    Pastikan bahwa format persetujuan yang telah ditanda tangani telah didapatkan
    ·    Kaji TTV, termasuk TD, denyut nadi, frekuensi dan kedalaman pernapasan dan suhu tubuh
    ·    Tentukan jika ada alergi yang telah diketahui atau reaksi buruk yang terjadi sebelumnya terhadap tahap transfusi darah
    ·  Perhatikan tanda-tanda spesifik yang terkait dengan patologis klien dan alasan pemberian transfusi, misalnya untuk anemia perhatikan kadar hemoglobin dan hematokrit
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Patologis Reaksi Transfusi Darah Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top